Kamu Harus Tahu! Perkosaan dalam Pernikahan

  • Whatsapp
Kerasan dalam pernikahan
Ilustrasi: Perkosaan dalam Pernikahan

TIPS Apakah kamu kaget ketika mendengar perkosaan ada dalam sebuah pernikahan? Sama, saya pun begitu lalu berusaha denial yang membuat diri ini layaknya memupuk kebodohan. Selama hidup hampir seperempat abad baru ketemu eh lebih bisa dibilang diingatkan ya dengan fenomena amat menjijikkan ini lewat film Under My Burkha bahwa marital rape (perkosaan dalam pernikahan) itu nyata. Sungguh? Iya ada, dan banyak. Ketika kita tidak mengalaminya bukan berarti hal itu tidak ada, naudzubillah…

Marital rape di Indonesia mungkin masih kurang diperhatikan, banyak sekali kasus seperti ini dianggap wajar dan hak-hak perempuan masih menjadi minoritas, seperti problem reproduksi dan merendahkan martabat kemanusiaan perempuan.

Ada pemahaman bahwa “memang sudah tugas istri melayani suami, jadi ya harus nurut ngelayani kalau memang suaminya lagi birahi”. Sehingga, konteks perkosaan tidak bisa diterapkan. Di sini tidak akan membahas kontroversi itu lebih jauh. Ada banyak based on paper research yang relevan dapat dibaca bahwa perkosaan dalam pernikahan itu fenomena yang nyata. Malah beberapa negara yang menganggap marital rape termasuk ranah kriminal, seperti USA, UK, dan Bhutan.

Tidak semua orang paham soal marital rape. Sedih, bahkan meski sudah statusnya suami-istri tapi tetap saja ya begitu adanya. Berikut akan saya paparkan sedikit bentuk-bentuk perkosaan dalam perkosaan itu di antaranya;

  1. Hubungan seks penuh paksaan

Kita dipaksa mandi pas hari miggu saja “nggerundelnya” minta ampun apalagi soal hubungan seks yang tentunya butuh dinikmati kedua sejoli bukan hanya pihak suami atau pun sebaliknya. Jadi, jika ada pasangan memaksa itu hingga melukai pasangannya patutlah itu disebut perkosaan dalam pernikahan, yang sejatinya pernikahan adalah sebuah hubungan untuk saling melindungi malah dipakai ajang kekerasan.

  1. Pasangan merasa terancam dan tak ada pilihan lain dalam hubungan seks

Makna seks memiliki sifat konsensual (ada kesepakatan) seketika sirna dan berubah menjadi pemerkosaan saat kesenangan yang seharusnya didapat dibumbui ancaman penyerangan. Atau berkata “YA” padahal yang dirasakan pasangan (korban) adalah hanya demi mempertahankan pernikahan karena ada ancaman perceraian, memberi tuduhan bahwa pasangannya tidak setia lagi, atau akan meninggalkan pasangan jika tidak memenuhi hasratnya dan lain-lain, akhirnya pilihan terkahir adalah mengiyakan. Ini bukan sebuah bentuk persetujuan melainkan hubungan seks dengan manipulasi.

  1. Hubungan seks saat pasangan tak sadar

Ada satu kasus pasangan suami-istri yang menikah hampir genap satu dekade, dalam pernikahannya selalu disertai kekerasan oleh sang suami termasuk ketika hubungan seks yang dilakukan. Hingga suatu hari sang istri tak sadarkan diri akibat pukulan berkali-kali oleh suami akibat penolakan anal seks, saat istri pingsan pun perbuatan perkosaan itu tetap dilakukan dan meninggalkan istrinya tanpa rasa bersalah sedikit pun, hanya oleh asisten rumah tangga di pagi harinya istri tersebut menerima pertolongan. Ini membuktikan bahwa perkosaan dalam pernikahan ini nyata adanya dan satu kasus di atas hanya seperti fenomena gunung es. Saya yakin di luar sana ada banyak perempuan yang otoritas untuk dirinya saja terenggut bahkan oleh pasangannya sendiri.

Pandangan bahwa istri harus selalu setuju jika diajak berhubungan seks oleh suami berkontribusi pada tingginya kekerasan terhadap perempuan. Suami akhirnya merasa sah untuk memaksa dan bahkan melakukan kekerasan terhadap istrinya. Untuk hal ini, hanya dua kata: ISTIGFAR BRO.

Hubungan suami-istri adalah sah, tetapi jika dipaksakan apalagi dengan cara kekerasan, maka ia haram karena berdampak masadah (keburukan). Jadi jika RUU PUNGKAS menguslkan menghukum kekerasan seksual dalam perkawinan, bukan berarti menganggapnya sebagai zina, tetapi perbuatan sah yang berdampak mafsadah. Isi paragraf ini diambil dari tulisan Kiai Imam Nakha’i di mubadalah.id

Pos terkait