Mahasiswa KKN UNEJ Lakukan Inovasi Kemasan & Pendampingan Manajemen Pemasaran pada Produk Kerajinan Tangan

  • Whatsapp
Mahasiswa KKN 15 Universitas Jember melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM dalam hal inovasi kemasan dan pemasaran produk dengan digital marketing di Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso. (Foto: Ajg/jatimsatu.id)
Mahasiswa KKN 15 Universitas Jember melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM dalam hal inovasi kemasan dan pemasaran produk dengan digital marketing di Desa Randu Cangkring, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso. (Foto: Ajg/jatimsatu.id)

BONDOWOSO, JATIMSATU.ID – Kuliah Kerja Nyata (KKN) umumnya dilakukan secara berkelompok, namun pada saat pandemi COVID-19 sekarang ini salah satu kampus ternama di Kabupaten Jember, Universitas Jember (UNEJ), menerapkan aturan baru yakni KKN dilaksanakan secara individu.

Mahasiswa UNEJ saat ini melaksanakan KKN secara mandiri di Desa masing-masing dengan istilah “KKN Back To Village” atau “KKN Balik ke Kampung”.

Bacaan Lainnya

Salah satu mahasiswa KKN UNEJ, Ajeng Melinia Yunita Dewi, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang sedang menempuh awal semester 7, memilih tempat mengabdinya di Desa Randu Cangkirng, Kecamatan Pujer, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Ajeng, sapaannya, merupakan salah satu anggota dari KKN 15 UNEJ ini memilih tema “Program Pemberdayaan Wirausaha Masyarakat Terdampak COVID-19” dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Ir. Sundahri, PGDip.Agr.Sc.,M.P.

Menurutnya, masyarakat Desa Randu Cangkring banyak yang bekerja sebagai wirausaha, pedagang, hingga petani.

“Usaha dagang yang mereka geluti seperti memiliki usaha kelontong, ada pula pedagang yang menjualkan bahan pangan sehari-hari di pasar tradisional maupun di pinggir jalan,” tuturnya saat diwawancarai jatimsatu.id, Sabtu (28/8/21).

Selain itu, di Desa tersebut juga terdapat pedagang yang sekaligus memiliki home made industri sendiri seperti tempe dan kerajinan tangan.

Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama kurang lebih 1,5 tahun ini, menurut Ajeng mempengaruhi terhadap kegiatan perekonomian Indonesia.

“Utamanya di sektor UMKM, dampaknya luar biasa, hingga terjadi penurunan penghasilan,” katanya.

Salah satu UMKM di Desa tersebut yakni kerajinan tangan “ReRe Handmade” juga turut merosot penghasilannya.

Lebih lanjut Ajeng memaparkan, UMKM ini mengalami beberapa kendala sejak dari adanya omset dan pembeli yang menurun terutama dalam penjualan secara online pada marketplace seperti di Tokopedia dan Shopee.

“Usaha yang sudah lumayan lama berdirinya ini sudah memiliki banyak pelanggan secara offline, akan tetapi, beberapa pelanggan ini hanya menginginkan untuk melihat secara langsung pruduk accessories tersebut,” paparnya.

“Permasalahan lain dalam UMKM ini yaitu pemilik usaha kurang mengetahui bagaimana cara melakukan promosi menggunakan digital marketing seperti bagaimana dalam memfoto suatu produk agar terlihat menarik kemudian untuk di upload sebagai bahan untuk promosi,” imbuhnya.

Mengacu pada permasalahan tersebut, Ajeng mencoba membantu pembuatan logo berupa pendampingan design produk “ReRe Handmade” tersebut.

“Yang kemudian dilanjutkan ke pelatihan dalam membuat konten poduk “ReRe Handmade” yang akan digunakan sebagai bahan promosi atau pembuatan konten,” tandasnya.

“Lalu yang terakhir yaitu dengan pendampingan dalam penjualan melalui marketplace seperti Tokopedia dan Shopee,” pungkasnya.

Ajeng berharap, dengan apa yang telah ia perbuat kepada UMKM “ReRe Hamade” di Desa Randu Cangkring tersebut dapat meningkatkan penjualan dan penghasilan mereka di masa pandemi COVID-19 ini serta menjadi motivasi bagi pelaku UMKM-UMKM lainnya untuk terus mencari solusi disetiap ada masalah yang menghadapi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.