Sembari Ngabuburit, Rayon Ibnu Khaldun Adakan Webinar Arah Gerakan Mahasiswa Lintas Organisasi

Tangkapan layar Webinar Lintas Organisasi Rayon Ibnu Khaldun Komisariat Nurul Jadid, Probolinggo.
Tangkapan layar Webinar Lintas Organisasi Rayon Ibnu Khaldun Komisariat Nurul Jadid, Probolinggo.

Probolinggo – Mengingat bahwasanya terjadi berbagai problem di masyarakat dan pemuda mempunyai peran untuk memperbaiki demi kemajuan bangsa, mengubah suatu peradaban untuk menjadi lebih baik dan sejahtera. Sabtu sore, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) cabang Probolinggo, Rayon Ibnu Khaldun Komisariat Nurul Jadid mengadakan webinar lintas organisasi yang dihadiri peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.

Berbagai organisasi yang ada khususnya kawan-kawan PMII, HMI, GMNI dan KAMMI sebagai narasumber, berdiskusi dengan tema “Aktivisme Kaum Muda Dan Senjakala Gerakan Mahasiswa Dalam Membangun Peradaban Bangsa”.

Bacaan Lainnya

Pada waktu terjadinya Gerakan 1998, Mahasiwa dengan semangatnya sangat aktif berjuang untuk mengubah dan berjuang dengan cara demontrasi, sehingga dari gerakan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa menjadi lebih bertanggung jawab terhadap negara dan masyarakat.

“Sebagai mahasiwa yang eksis kita harus bertanggung jawab terhadap masyarakat dan negara agar bisa tercapainya sebuah kesejahteraan di sekitar kita,” ujar Ulhaq dari pengurus PMII cabang Probolinggo waktu itu.

Seiringya waktu dengan zaman yang makin berkembang, lumbung-lumbung gerakan mulai merosot di karenakan mahasiswa lebih individualis, maka dari itu tidak heran apabila pola pikir mahasiwa jaman dulu dan sekarang berbeda.

Terjadi transisi bagi seorang mahasiswa terlebih mementingkan dirinya sendiri dari pada khalayak umum. Selama ini arah gerakan mahasiswa tidak hanya aksi turun ke jalan akan tetapi yang menggunakan media dengan cara menulis.

Tambah kawan HMI cabang Palopo Sulawesi, “Terkadang demonstran lupa apa yang ia ingin di perjuangkan, ada yang hanya cuma ikutan saja, pantas saja ketika di tanya tidak tau” begitulah ujarnya.

Menjadi satu untuk membangun sebuah bangsa yang adil dan makmur, dan tidak ada sekat-sekat yang masih menimbulkan perbedaan ideologi. Seharusnya pemikiran itu se-frekuensi bagi khalayak umum sehingga masyarakat dan re-generasi bisa meneruskan langkah dan membentuk peradaban yang sejahtera.

Dari berbagai daerah, pola konflik yang terjadi juga berbeda-beda. Namun bukan merupakan suatu hambatan bagi mahasiwa untuk memperbaikinya. Dari itu bisa belajar sejauh mana perjuangan mahasiswa bertanggung jawab untuk membangun sebuah bangsa yang adil, makmur dan sejahtera.

Di susul oleh mantan ketua DPC GMNI Denpasar Bali, “Maka dari itu alangkah baiknya sebelum membangun bangsa terlebih dahulu membangun diri kita sendiri, dari tindakan maupun segi intelektual” katanya.

Pernyataan yang singkat tapi memuasakan kiranya, kemudian kader KAMMI mengananggapi; “pemuda sangatlah berperan penting bagi suatu peradaban dan sekaligus agent of change, mahasiswa seharusnya mempunyai gagasan-gagasan baru yang diterima khalayak umum yaitu masyarakat,” begitulah ujarnya.

Terlebih hal itu,webinar tersebut diadakan guna untuk memberikan terobosan baru bagaimana bangsa kedepannya, dengan berlangsungnya acara tersebut sambil lalu menunggu buka puasa tiba.

Meskipun salah satu dari peserta yang hadir dari berbeda kalangan, akan tetapi mereka tidak memungkinkan mereka juga sangat antusias dan prihatin terhadap peserta yang sedang melaksanakan puasa. [Achmad Syaifudin]

Pos terkait