Gelar Sekolah Politik, PMII Rayon Sosial UIJ Perkuat Pemahaman Politik Kader

  • Whatsapp
Opening "Sekolah Politik" Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Sosial Universitas Jember di Auditorium Kampus 2, Jum'at (27/8/21). Acara menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (Foto: Bgs/jatimsatu.id)
Opening "Sekolah Politik" Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Sosial Universitas Jember di Auditorium Kampus 2, Jum'at (27/8/21). Acara menerapkan protokol kesehatan secara ketat. (Foto: Bgs/jatimsatu.id)

JEMBER, JATIMSATU.ID – Dalam upaya menyuplai kognisi anggota dan kader, Pengurus Rayon (PR) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Sosial Komisariat Universitas Islam Jember (UIJ) menyelenggarakan kegiatan kaderisasi non-formal berupa Sekolah Politik, di Auditorium Kampus 2, Jum’at (27/8/21).

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) PMII Jember tersebut, turut dimeriahkan oleh puluhan tamu undangan kader PMII se-Jember. Dalam acara tersebut, panitia menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Bacaan Lainnya

Afifurohman, Ketua Rayon Sosial, memberikan pernyataannya tentang betapa pentingnya aktivis pergerakan memahami tentang dunia perpolitikan.

Lembaga ekstra yang menaungi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tersebut, menurutnya harus memiliki sublimasi pemahaman lebih jauh tentang politik.

“Pemahaman masyarakat selama ini cenderung menstigmakan bahwasannya politik itu kotor, politik alat pembodohan dan lain sebagainya,” ujarnya.

“Maka, upaya mendiagnosa dari pada pemahaman masyakat semacan itu, kita selaku aktivis pergerakan yang sekaligus mahasiswa FISIP, harus terus melakukan pengawalan sekaligus melakukan kajian terkait kebijakan-kebijakan pemerintah,” imbuhnya.

Menurut Afifurrohman, pemikiran semacam ini dibidani oleh jajaran Pemerintah, yang dalam masa kampanyenya selalu berkampanye tentang indahnya surga, namun secara prakteknya mensajikan neraka kepada masyarakat.

Sementara Bagaskara, Ketua Komisariat PMII UIJ, mewanti-wanti agar setiap melaksanakan program kerja tidak hanya sebatas menggugurkan kewajiban kepengurusan, namun juga harus diperjelas direncana tindak lanjut.

“Menjadi seorang aktivis mahasiswa itu, tidak hanya pintar dalam segi retorika belaka, namun juga harus memiliki semangat perjuangan yang tinggi. Dalam artian, bukan hanya memperkuat dibidang keilmuannya saja, namun harus ada ruang aktualisasi dari pada keilmuan sahabat-sahabat,” tpegasnya.

Dijelaskan, seperti halnya yang telah disepakati terkait Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember, secara akademik anggota dan kader PMII Rayon Sosial memiliki kapasitas untuk mengkaji sekaligus menyuarakan hal tersebut, kira-kira kebijakan yang telah diketok palu itu, manfaat dan mudharatnya lebih besar mana terhadap masyarakat Jember.

“Apalagi ada platform terkait zonasi pertambangan, yang mana, hampir mayoritas masyarakat jember antipati terhadap hal yang berkaitan dengan pengrusakan alam,” pungkasnya.

Faqih Al-Haromain, Ketum PC PMII Jember, turut membenarkan dari pada statement Bagaskara tentang RPJMD Jember. Dengan mengutip kaidah ushul fiqih, “Dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih,”

“Meninggalkan dan menjauhi segala hal yang akan menimbulkan kemafsadatan harus didahulukan dari mengambil manfaat dan kemashlahatan,” terangnya.

PC PMII Jember yang sedari dulunya konsisten melakukan perlawanan terhadap upaya-upaya eksploitasi sumber daya alam, akan terus melakukan pengawalan bila mana hal tersebut benar-benar dilakukan oleh pemkab Jember.

“Untuk upaya pengentasan kemiskinan sekaligus meningkatkan surplus Pendapan Asli Daerah (PAD) cukup banyak jalan, tidak harus mengorbankan bumi hijau yang kelak anak cucu kita tempati dan bertahan hidup,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.